Site icon Review Sinopsis dan Ulasan Ending Drakor dan Film Korea Terbaru

Pachinko, Drama 4 Generasi dari Novel Lee Min Jin

Sinopsis Ending Drama Pachinko Novel Lee Min Jin

Review Drama Pachinko (2022) – Annyeong haseyo, sahabat lendyagassi.

Rasanya agak meng-sad ya.. melihat banyaknya komentar Netijen mengenai karakter yang dimainkan Abang Lee Min Ho di drama terbarunya, Pachinko yang tayang langsung 3 eps di penayangan perdananya pada tanggal 25 Maret 2022 yang lalu di Apple TV.

Semua penonton menyayangkan bahwa karakter Lee Min Ho di drama ini yang menjadi f*kboi, yang hanya mau ambil enaknya doank, pas dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, karena sang cewek hamidun, dia menolak dengan mengatakan hal-hal buruk mengenai ayahnya dan khawatir anaknya akan cacat seperti Ayah dari sang wanita tersebut.

Wah, beneran kisahnya sedih banget sih yaa..
Apalagi drama Pachinko ini menghadirkan kisah 4 generasi sekaligus!

Bayangin gak, gimana pusingnya penonton karena mondar-mandir dari tahun ke tahun mengikuti nasib keturunan keluarga Sunja dan hubungannya dengan orang Jepang dan Korea. Simak dulu yuk, sinopsis Pachinko berikut ini. Let’s get it~

Drama Korea Pachinko (2022)

Poster Pachinko Korean Drama

Profil Drama

Judul : Pachinko
(Pachinko / 파친코)

Sutradara : Kogonada, Justin Chon
Penulis Drama : Soo Hugh
Penulis Novel : Lee Min-Jin

Pemeran Utama Drama Pachinko:

Kim Min-Ha sebagai Kim Sun-Ja
Jin Ha sebagai Baek Solomon
Lee Min-Ho sebagai Koh Han-Su
Youn Yuh-Jung sebagai Kim Sun-Ja

Pemeran Pendukung Drama Pachinko:

Jeong In-Ji sebagai Yang Jin (Ibu Sunja)
Lee Dae-Ho sebagai Hoon (Ayah Sunja)
Yu-Na sebagai Sunja masa kecil
Noh Sang-Hyun sebagai Baek Isak

Genre : Drama, Historical

Network : Apple TV
Episode : 8

Release Date : March 25 – April 29, 2022
Setiap hari Jum’at

Sinopsis Drama Pachinko (2022)

Drama Pachinko adalah drama yang bersetting tahun 1915-1925 dengan kondisi saat itu Korea sedang diinvasi oleh Jepang dan Jepang mengharuskan banyak keluarga untuk menjual tanahnya dan pindah keluar negeri, lalu scene berikutnya melompat ke generasi 1989. Diceritakan dari generasi pertama sebuah keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi dan kesulitan memiliki keturunan. Dikabarkan, keluarga ini hidup sangat miskin akibat dari keadaan perekonomian di Korea yang tidak menentu. Seluruh tanah dan hasil buminya dirampas Jepang, hingga para wanita Korea tidak boleh memakai baju berwarna putih.

**hanbok berwarna putih ini melambangkan kesucian dan kemurnian jiwa wanita Korea.

Berbagai keadaan tak menentu dan ditambah lagi keluarga sederhana yang hanya memiliki banyak kamar dalam rumahnya yang bisa disewakan sebagai pondokan, tempat orang singgah dan menginap. Lalu, menjadi sebuah keberkahan ketika keluarga ini memiliki anak terakhir yang masih bisa bertahan hidup, Hoon, namanya.

Fisik Hoon yang tidak sempurna, ia memiliki kekurangan karena bibirnya sumbing dan badannya yang bongkok serta kakinya yang pincang, sehingga orangtuanya khawatir kalau Hoon tidak bisa menikah. Namun, keajaiban terjadi, Hoon pun mendapat pasangan seorang wanita dari Pulau sebelah yang Ayahnya seorang petani dengan 4 anak perempuan. Calon istri Hoon ini adalah anak ke empat dari 4 bersaudara.

Generasi Pertama : Pasangan Hoon & Yang Jin (1915-1925)

Hoon (Lee Dae-Ho), satu-satunya keturunan yang hidup dari keluarga Bapak pemilik pondokan yang berada di Yeongdo, Busan, Korea. Jangan bayangkan rumah mewah yang memiliki banyak kamar indah, namun rumah dengan dinding kayu khas Korea yang sudah lapuk. Namun, pondokan reyot ini sudah mampu bertahan selama tiga dekade dan menjadi pelindung bagi keluarga Hoon.

Karena kebutuhan keluarga yang mendesak, maka kamar-kamar ini disewakan dengan harga yang sangat murah. Yang menyewa pun tak jarang adalah para nelayan atau para pekerja yang bekerja di pasar ikan. Yeongdo yang memang berada dekat dengan pantai, maka daerah ini terkenal dengan kualitas ikannya yang bagus. Dan hingga kini, daya tarik Yeongdo adalah wisata kuliner hidangan lautnya.

Pada tahun 1915-1925, keluarga ini pun mengalami kesulitan memiliki anak. Sehingga sang Ibu ke dukun dan meminta penjagaan yang ketat ketika akan memiliki anak kepada seorang dukun. Dan Ayahnya pun berjanji bahwa akan membesarkan anak mereka tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Lahirlah anak yang dinantikan dan diberi nama Kim Sun-Ja (Kim Min-Ha). Anak kecil yang tumbuh di lingkungan sederhana dan kesehariannya adalah melayani kehidupan di Pondokan. Sun-Ja terbiasa kerja keras dan memiliki intuisi berdagang yang cerdas. Hingga suatu hari, ia diberi upah atas negosiasi yang ia lakukan kepada pemilik restoran dan pedagang ikan untuk sebuah dealing harga ikan yang sesuai dengan kualitas ikannya.

Kim Sun-Ja kecil, Yeongdo, Busan, Korea

Begitu Sun-Ja tumbuh besar, sang Ayah, Pak Hoon ini tutup usia, sehingga Sun-Ja hanya memiliki Ibunya dan hingga pada suatu hari, Yeongdo kedatangan seorang makelar ikan dari Osaka, Jepang. Ia adalah Koh Han-Su (Lee Min Ho). Perawakannya yang gagah dibalut dengan baju mewah, semua orang mengagumi sosok Koh Han-Su. Pun kinerjanya yang baik dengan para pedangang dan nelayan. Koh Han-Su sangat tegas dalam menetapkan harga ikan sehingga baik pihak nelayan dan pedagang merasa sangat terbantu dan tidak terzolimi lagi dengan harga-harga yang tidak pasti.

Kim Sun-Ja, anak dari Pasangan Hoon & Yang Jin

Generasi Kedua : Kim Sun-Ja

Ketertarikan antara Koh Han Su dan Kim Sun-Ja dimulai dari sama-sama mengagumi dari kejauhan hingga suatu hari Sun-Ja berada di kondisi berbahaya. Ia nyaris diperk*sa oleh orang Jepang yang mengganggunya saat perjalanan pulang. Dan dengan tangkas, Han Su datang menyelamatkan dan mereka pun saling berkenalan.

Uniknya, hubungan ini tidak berlangsung lama, karena saat bertukar mimpi, bertukar cerita dan saling mendukung lalu berlanjut ke hubungan terlarang antar keduanya yang mengakibatkak Sun Ja hamil. Huhuu~

Ini sedih banget sih… Karena Sun Ja uda excited dengan keadaannya dan merindu kehadiran Han Su, pria yang dicintai dengan segenap hati, namun begitu kabar ini disampaikan ke Han Su, ia menolak. Awalnya hanya berkata “Selamat, aku yakin, pasti anak dalam kandunganmu ini berjenis kelamin laki-laki”

“Kenapa kamu begitu percaya?
Bagaimana kalau perempuan”

“Kalau perempuan, akan aku belikan baju-baju yang cantik. Karena ia akan mewarisi kepintaran sang Ibu.”

Sun Ja hamil dan Hansu menolak menikahinya

Sun-Ja merasa di atas awang-awang dan berkata ingin Hansu segera datang ke Ibunya untuk menikahinya. Sekejap kemudian, sikap hangat Hansu berubah menjadi dingin. Hansu terus meracau bahwa ia telah memiliki keluarga di Osaka, dengan 3 anak perempuan dan meski itu pernikahan tidak berdasarkan cinta karena dijodohkan, tetap saja, ia tidak bisa menikahi Sunja, gadis desa yang menurutnya memiliki kekurangan karena Ayah Sun-Ja dulu cacat dan Han Su khawatir anak di kandungan Sun-Ja kelak mewarisi cacat dari kakeknya.

Ommoo~

Sun-Ja menangis sejadi-jadinya karena apa yang diharapkan selama ini sangat jauh dari panggang. Huhu… Ia gak mampu mendengar lagi ceracauan Hansu yang bahkan ia menuduh bahwa ini semua terjadi karena rencana Sunja. Hansu berkata bahwa ia akan melimpahkan semua kekayaan untuk Sunja bahkan memberikan rumah terbaik di Yeongdo untuk hidup yang bahagia baginya dan anaknya, tapi tidak dengan menikahinya.

Cacian yang bertubi-tubi tersebut menusuk relung Sun-Ja sehingga ia berlari secepat mungkin dan menghlang dari pandangan Hansu. Sedih sekali..

Hingga hadirlah sosok Baek Isak, seorang pendeta dari Osaka yang menginap dan terjatuh pingsan tepat di halaman pondokan rumah Sun-Ja. Sehingga Ibu Sun-ja tidak dapat mengabaikannya begitu saja dan merawat Baek Isak dengan sungguh-sungguh.

Baek Isak ini nanti yang akan menikahi Sun-Ja dengan sepenuh hati dan merawat anak Sun-Ja walau hidupnya tidak lama dan Sun-Ja kembali hidup dalam kesendiriannya di Osaka.

Baca juga :
Baca Webtoon The Office Blind Date di Kakaopage & Ending Business Proposal
List Drama Korea yang Tayang Bulan Maret 2022

Generasi Keempat : Baek Solomon

Untuk generasi ketiga, belum begitu banyak diceritakan di sepanjang eps 1-3 dari drama Pachinko ini, jadi kisahnya melompat ke generasi cucunya Sun-Ja yang bernama Baek Solomon (Jin Ha).

Solomon adalah seorang yang bisa dibilang sukses dalam berkarir. Ia dipindahkan dari cabang Amerika ke Jepang untuk sebuah perusahaan properti. Dan karirnya terus meningkat seiring dengan kesuksesannya dalam membujuk setiap klien untuk menjual tanahnya di Jepang dan akan dibangun proyek yang lebih besar lagi.

Jin-Ha sebagai Baek Solomon

Sebagai cucu dari nenek Sun-Ja yang hidupnya di Korea namun besar di Jepang, ia lancar sekali menggunakan kedua bahasa tersebut. Belum diceritakan lebih detil mengenai kehidupan Solomon. Hanya yang masih menjadi misteri adalah ia menanti seorang gadis cinta pertamanya yang bernama Hana dan berhasilkah ia menaklukkan dunia di tahun 1989 kala itu?

Kesan Nonton Drama Pachinko (2022)

Jangan ditanya, aku suka banget dengan drama model begini. Hihii~
Mungkin terkesan rudet dan membingungkan, tapi aku suka drama dengan sajian sejarah dan konflik percintaan yang mewarnai.

STOP judging Sun-Ja, wan-kawan!
Karena pada tahun itu, feminisme belum seperti saat ini sehingga kondrat wanita memang hanya sebatas di dapur dan di ranjang. Masalah prinsip, masih sangat awam sekali. Jangankan Sun-Ja yang orang desa yaa.. yang masih berpaham DP dulu sebelum nikah di zaman sekarang juga banyak kan yaa..

Jangan ditiru.
Ini menjadi pengingat kita semua siih… Tapi yang di hi-lite selain kehidupan perempuan dari generasi ke generasi ini membuat kita paham bagaimana beratnya menjadi bangsa yang dijajah oleh bangsa lain. Bahkan, orang Korea kala itu tidak bisa bangga di atas kaki mereka sendiri.

Pemeran Utama Drama Korea Pachinko

Lesson Learn Drama Pachinko (2022)

Kehidupan Mandiri Seorang Wanita

Memang yang di hi-lite dari drama Pachinko ini adalah bagaimana seorang wanita dalam sebuah tatanan keluarga dan masyarakat mampu bertahan di tengah-tengah ganasnya penjajahan. Korea kala itu yang belum memiliki kedaulatan sendiri, bahkan ada satu kalimat yang aku sakit hati banget dengarnya. Kalimat ini diucapkan orang Jepang yang hampir memerk*sa Sun-Ja.

Dia berbicara bahasa apa?
Korea?
Bahkan mendengar mereka berbicara menggunakan bahasanya saja aku merasa jijik.
Dasar rakyat rendahan.”

Sun-Ja dan Koh Han Su, Drama Pachinko

Sebegitu rendahnya nasib orang-orang yang dijajah ini di mata penjajah yaa.. Kalau mau tahu kondisi perang Korea, bisa nonton Film, seperti The Battleship Island-nya Song Joong Ki dan So Ji Sub.

Kehidupan susah-senang, seorang wanita harus bisa belajar cari makan sendiri

Quote Drama Pachinko

Ingat, JAS MERAH (Jangan Lupakan Sejarah)

Seperti pesan Presiden pertama Indonesia, bahwa jas merah. Jangan pernah melupakan sejarah. Anak cucu kita pun harus mengenal sejarah yang pernah mewarnai negara ini. Bukan, maksudnya bukan untuk memendam dendam, tapi dari sejarah, kita akan bisa menempatkan diri bagaimana menghargai kemerdekaan bangsa dan berbakti kepada bangsa dan negara dengan senantiasa mengukir prestasi yang baik.

Menghargai Apa yang Ditanam di Negeri Sendiri

Ini terasa sekali yaa…
Saat Indonesia dulu memiliki swasembada pangan, semua kebutuhan negeri ini terpenuhi dari tanah yang ada di negeri sendiri. Sama halnya saat di drama Pachinko. Betapa nenek Sun-Ja saat makan nasi dan rasanya adalah beras yang ditanam di tanah airnya yang sangat dirindukan ((saat makan, nenek Sun-Ja berada di Osaka)) dan nenek Sun-Ja pun meneteskan air mata. Ia rindu dengan tanah kelahirannya, Yeongdo, Korea.

Picnya Lee Min Ho lagi, miaan.. Gak ada teaser pic drama Pachinko euii~

Impian Mengorbankan Segalanya

Aah, ini berat banget sih yaa.. karena ada scene dimana Koh Hansu mengatakan bahwa

Everything~
Nothing!

Koh Han-Su, Quote Drama Pachinko

Yang maknanya “Semua ada di, tapi tak berarti”.

Ini dikatakan Han Su saat sedang membicarakan mimpi yang telah diraihkan saat kecil. Ia dulu juga seperti Sun-Ja, hidup di desa kecil dengan kemiskinan yang dialami bahkan lebih parah dari Sun-Ja. Han Su kecil hanya memiliki 1 baju yang melekat di tubuhnya. Ketika malam, baju dicuci dan lekas dikeringkan agar keesokan harinya bisa digunakan lagi. Suatu hari, Han Su kecil mendapatkan ide bahwa baju yang basah dikeringkan di dekat api temat memasak, namun apa yang terjadi?

Api tersebut melahap baju sanga Ayah hingga meninggalkan lubang sebesar kepalan tangan. Dari kemiskinan itu, Han Su berkata bahwa tidak ada yang boleh merebut impiannya untuk menjadi orang sukses. SehinggaHan Su belajar membaca dan menulis.

Hingga ia bisa dikirim ke Osaka, Eropa, bahkan Amerika.

Trailer Drama Pachinko

Trailer Pachinko Apple TV

Drama yang mengisahkan banyak kisah dari sebuah kehidupan ini membuat kita menghargai artinya perjuangan, kemerdekaan dan kebebasan yang ada saat ini. Dan lebih daripada itu pesan dari Bapak Hoon adalah

Anak perlu tahu ada kebaikan di dunia ini, karena itu akan membuatnya tumbuh kuat.

Pak Hoon, Quote Drama Pachinko

Apakah sahabat lendyagassi ada yang merasa bahwa nonton drama Pachinko serasa menonton opera klasik dengan musik-musik mewah yang menghiasi di akhir kisahnya?

즐거운 하루 보내세요~
Have a nice day.

With love,

Exit mobile version