Film Korea A Resistance (2019) – Annyeong haseyo, sahabat lendyagassi.
Sahabat lendyagassi punya alasan gak kenapa suka Kdrama atau Kpop?
Aku punya nih… Salah satunya bukan hanya karena gegap gempita bagaimana Hallyu Wave ini bisa merasuk ke negara-negara di seluruh dunia, tapi juga karena nasib Korea sama seperti negara kita tercinta, Indonesia.
Atas dasar persamaan nasib ini, aku semakin merasa relate kalau nonton film perjuangan bangsa Korea dalam merebut kembali Kemerdekaan yang merupakan hak segala bangsa. Dan baik Korea maupun Indonesia sama-sama pernah dijajah oleh Jepang. Kalau Indonesia dijajah Jepang selama 3.5 tahun (yang mana penderitaannya jauh lebih lebih berlipat dari penjajahan sebelumnya) sedangkan Korea dijajah Jepang selama 35 tahun.
Persamaannya lagi, Hari Kemerdekaan Korea dan Indonesia hanya selisih 2 hari. Korea merdeka pada 15 Agustus 1945 sedangkan Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Maka gak jarang bila Pemerintahan Korea yang berada di Indonesia merayakan Hari Kemerdekaannya bersama dengan Indonesia melalui jalinan bilateral dua negara yang baik.
Ada kisah perih yang dialami Korea semasa pendudukan Jepang yang salah satunya dituangkan dalam sebuah film yang berjudul A Resistance (2019) ini. Kisah perjuangan rakyat Korea dalam menyuarakan Kemerdekaan yang disebut dengan Gerakan 1 Maret 1919 atau Demonstrasi Manse atau juga Pergerakan Samil (Samil Undong).
Yuk simak review dan sinopsis Film Biografi Tokoh Kemerdekaan Yu Gwan Sun dalam “A Resistance” berikut ini.
Let’s get it~
Film Korea A Resistance (2019)
Profil Film
Judul : A Resistance (English title) / Resistance: Yu Gwan-Sun’s Story (literal title)
(Hanggeo: Yugwansun Iyagi/ 항거:유관순 이야기)
Director : Jo Min-Ho
Penulis : Jo Min-Ho
Pemeran Film A Resistance (2019):
Ko Ah-Sung sebagai Yu Gwan-Sun
Kim Sae-Byuk sebagai Kim Hyang-Hwa
Pemeran Pendukung Film A Resistance (2019):
Kim Ye-Eun sebagai Kwon Ae-Ra
Jeong Ha-Dam sebagai Lee Ok-Yi
Ryoo Kyung-Soo sebagai Nishida (Jung Choon-Young)
Choi Moo-Sung sebagai Yoo Joong-Kwon (father)
Shim Tae-Young sebagai Yoo Woo-Seok (brother)
Genre : Drama, Hitorical
Release Date : February 27, 2019
Runtime : 105 minutes
Rating : ⭐⭐⭐/5
Sinopsis Film A Resistance (2019)
Film A Resistance adalah sebuah film dengan latar belakang sejarah dan setting tahun 1910, tahun dimana permulaan aneksasi Jepang dimulai resmi di Korea. Sebenarnya, Jepang berada di Korea dan tarik menarik kekuasaan ini sudah ada sejak sebelumnya, Dinasti Ming, Qing pada saat Pemerintahan Joseon akhir. Dan diperparah ketika sebuah Pemerintahan Raja terakhir Joseon naik tahta yang dibantu Jepang dan mereka menandatangani sebuah kesepakatan.
Dari mulai kesepakatan Perjanjian Tujuh-Ayat (Perjanjian Eulsa) pada tahun 1905 ditandatangani dan menjelaskan bahwa Residen Jendral Jepang boleh untuk ikut campur dalam semua urusan administrasi internal. Sehingga Jepang merasa bisa mengusir penjajahan Ming dan Qing lalu “menguasai” Joseon pada kala itu.
Pergerakan 1 Maret di Korea Selatan
Dan keberhasilan dengan perjanjian Korea-Jepang kala itu, malah menjadi bom atom bagi Korea sendiri. Karena lalu Joseon dibubarkan oleh Jepang pada 31 Juli 1907 dan Korea resmi dibawah kepemimpinan Kaisar Meiji (The Great Meiji, 1867-1912) lalu digantikan oleh Kaisar Hirohito (1901-1989).
Atas dasar kata-kata manis Jepang, maka orang Korea dilarang menggunakan bahasa Korea, dilarang bersekolah tinggi dan banyak larangan lainnya. Jadi manisnya pendidikan hanya dikecap oleh kaum bangsawan, kala itu. Dan hadirlah seorang keluarga di Korea yang pro-Kemerdekaan Korea, bernama keluarga Yoo.
Dari mulai Pak Yoo (diperankan oleh Choi Moo-Sung), sang Ibu, dan kedua anaknya, semua berjuang demi mencapai kebebasan dan kedaulatan negaranya. Yang sedih adalah ketika para orang Korea ini turun ke jalan untuk mengadakan demostrasi yang mereka sebut dengan “Demonstrasi Damai 1 Maret” namun Pemerintahan Jepang merasa gerah dan akhirnya tentara Jepang turun ke jalan dengan membawa senjata dan menembaki secara membabi buta para demonstran.
Keluarga Yoo, Bapak dan Ibu, keduanya gugur di tengah gempuran peluru tentara Jepang saat itu. Sebanyak kurang lebih 7.509 orang tewas dengan 15.850 korban luka, 45.306 orang ditangkap serta 715 rumah, 47 gereja, dan 2 sekolah dibakar.
Malangnya, Yu Gwan Sun dan kakanya Yoo Woo-Seok juga ditahan di Penjara Seodaemun di Seoul, Korea Selatan.
(Source: tripadvisor)
Perjuangan Yu Gwan Sun Selama di Dalam Sel Nomer 8 Penjara Seodaemun
Yang namanya darah pejuang, Yu Gwan Sun tidak gentar meski raganya di dalam sel tahanan nomer 8 di Penjara Seodaemun. Bila anak-anak seusianya asik menikmati bangku sekolah, Yu Gwan Sun kala itu sudah terpikir untuk berjuang melawan penjajahan, dari mulai secara diam-diam ataupun secara terbuka dengan cara menarik massa.
Kata-katanya selalu menggelora sehingga setiap yang mendengar pun ikut merasakan perjuangan yang sama. Setelah Yu Gwan-Sun masuk penjara, ia sempat merasakan sedih. Sebab kedua orangtuanya meninggal di hadapannya dengan cara ditembak tentara Jepang, kakaknya juga masuk penjara, awalnya karena inilah Yu Gwan-Sun menangis dan ingin berhenti berjuang dan mengambil jalan menurut dengan perintah Jepang.
Hingga konflik di penjara pun terjadi. Yu Gwan-Sun disalahkan atas kematian anak salah satu Ibu yang kala itu juga ada di penjara, satu sel dengan Yu Gwan-Sun. Oh iya, jangan kaget kalau Jepang memberikan sel yang keadaannya sangat parah menyiksa. Dalam 1 sel sempit, terdapat puluhan orang di dalamnya. Mereka saling berdiri, saking sudah gak ada tempat untuk duduk.
Agar kaki para tahanan tidak bengkak, maka mereka berjalan mengitari ruangan dan bergantian istirahat untuk duduk atau tidur sejenak. Makan pun hanya diberi semacam bubur dibentuk bola sebesar kepalan tangan dan makannya kayak yang njemek-njemek gitu..
Makan sambil berdiri dan tujuan si makanan dibuat bola njemek adalah agar mereka gak repot memberikan minum sesudahnya. Bahkan diantara para tahanan, ada wanita hamil dan orang tua. Sungguh penjajahan itu adalah hal tak beradab!
Apa yang Dilakukan Sel 8 dalam Penjara Seodaemun Tahun 1919
Sejatinya, perjuangan memang tidak bisa dilakukan seorang diri. Butuh persatuan dan kesatuan untuk bisa saling menguatkan dan tidak mudah dipatahkan oleh penjajah. Dan di saat Yu Gwan-Sun melemah dengan daya juangnya, ada seorang aktivis, kakak kelas Yu Gwan-Sun waktu sekolah yang pekerjaannya adalah “wanita penghibur” menguatkan kembali perjuangan Yu Gwan-Sun.
Gisaeng ini bernama Kim Hyang-Hwa. Ia pintar bernyanyi sehingga meski di dalam sel, ia kerap menyanyikan lagu Arirang, lagu kebangsaan orang Korea. Awalnya satu orang, dua orang, lalu semua satu sel menyanyikan lagu Arirang secara bersama-sama sehingga membuat gaduh penjara dan pelaku utamanya dihukum.
Lagu Arirang ini adalah lagu penyemangat rakyat Korea yang memiliki arti 아리 (ari) berarti indah, cantik dan 랑 (rang) berarti kekasih. Kesimpulannya makna arirang berarti “kekasihku tersayang”. Lagu ini mencerminkan sejarah dan perjuangan bangsa Korea, sehingga ketika dinyanyikan bersama rasa persatuan dan kesatuan kembali terbentuk.
Selain menyanyikan lagu Arirang, para wanita di sel tahanan nomer 8 juga berani bersuara bahwa mereka bukan katak yang diam ketika disuruh diam dan berbunyi ketika diminta bersuara. Jawaban dalam bahasa Jepang inilah yang membuat sipir penjara ((yang juga orang Korea, namun pintar berbahasa Jepang)) ini berang dan melaporkan ke Kepala Penjara.
Kepala Penjara adalah orang Jepang yang kejam. Ia menyuruh mencari siapa dalang dari “keberanian” para tahanan tersebut. Dan beberapa orang diciduk sekalian disiksa kemudian ada satu orang yang mengaku kalau Yu Gwan-Sun-lah yang pertama menggerakkan mereka di dalam sel.
Sejak saat itu Yu Gwan-Sun ditarik dan dipisahkan selnya untuk disiksa lebih kejam lagi.
Penyiksaan Yu Gwan-Sun Oleh Tentara Jepang
Karena Yu Gwan-Sun pantang menyerah, di saat ia diminta untuk meminta maaf kepada tentara Jepang atas perbuatannya selama ini dan tunduk dengan Kaisar Jepang, Yu Gwan-Sun menolak. Ia lebih memilih disiksa raganya, asal tidak terpenjara rasa nasionalismenya terhadap negaranya tercinta, Korea.
Hal ini membuat berang sang tentara Jepang. Berbagai siksaan fisik pun dilakukan. Dari mulai digantung terbalik, bajunya dibuka (dipermalukan di depan tentara Korea yang bekerja untuk Jepang) sampai kukunya dicabut dan dikurung di dalam penjara satu orang yang posisinya berdiri dan gak dikasih makan minum selama seminggu.
Setelah seminggu berada di penjara berdiri, Yu Gwan-Sun mendapat kabar bahwa kakak laki-lakinya ada di penjara pria. Lega hati Yu Gwan-Sun meski badannya terasa sakit semua akibat siksaan Jepang.
Sekembalinya ke Sel Nomer 8
Setelah seminggu, Yu Gwan-Sun kembali dimasukkan ke dalam sel nomer 8 yang berisi banyak tahanan lain. Dan alangkah terkejutnya semua tahanan dengan keadaan Yu Gwan-Sun kala itu. Dengan perawatan teman-teman dan ada salah seorang tahanan yang melahirkan bayinya dan merawat serta membesarkan bayi di dalam sel, seua tahanan saling merawat, saling menghibur dan saling memberi semangat.
Untuk sementara, perjuangan dihentikan dan Yu Gwan-Sun kembali merencanakan sesuatu setelah ia sembuh. Ia menjadi relawan di penjara, karena dengan menjadi relawan, tujuan utamanya adalah agar tetap terhubung dengan informasi dunia luar. Ia ingin tetap memantau perjungan melalui informan di penjara.
**relawan disini tugasnya adalah cuci baju tahanan lain, menjemurkannya, angkut-angkut air dan banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Janji dari Pemerintah Jepang, jika ia menjadi relawan teladan, maka masa hukumannya akan dikurangi. Masa hukuman penjara Yu Gwan-Sun sendiri selama 5 tahun penjara. Di saat semua tahanan hanya dihukum 6 bulan sampai 1 tahun.
Ia mulai mengenal siapa tentara yang menyiksanya saat interogasi yang lalu dan mengajak semua tahanan untuk kuat.Yu Gwan-Sun juga berkomunikasi dengan beberapa tahanan pria untuk menitipkan kabar untuk kakaknya. Dan apa yang dilakukan Yu Gwan-Sun berikutnya?
Ia menanyakan tanggal. Tanggal berapakah saat ini?
Karena semangatnya untuk menyambut 1 Maret yang merupakan hari Pergerakan Korea dan sekaligus hari kematian sang Ayah dan Ibunya.
Dan tepat diperhitungan harinya, 1 Maret di tahun berikutnya, Yu Gwan-Sun kembali membuat demo dari dalam sel nomer 8-nya bersama teman-temannya. ia pura-pura pingsan agar tidak bekerja sebagai relawan dan kembali menyuarakan keinginannya untuk merdeka.
Suara keras hingga bergemuruh ini terus memanggil dari satu sel ke sel-sel yang lain. Dan sel yang lain pun ikut bersuara menginginkan kemerdekaan hingga kepala penjara kewalahan karena suara terus menggema hingga keluar wilayah penjara dan kembali membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Korea kala itu.
Tepat 1 Maret 2020, kembali terjadi demonstasi damai orang-orang Korea turun ke jalan. Dan sejak itu, Yu Gwan-Sun kembali disiksa dengan siksaa yang kali ini membuatnya mati perlaha-lahan. bagi Jepang, Yu Gwan-Sun adalah orang yan berbahaya. Akan lebih berbahaya kalau ia memiliki keturunan. Maka oleh orang Jepang, Yu Gwan-Sun ditendang di bagian perutnya hingga darah mengalir tanpa henti selama berhari-hari.
Kesan Nonton Film A Resistance (2019)
Harus banget sahabat lendyagassi nonton film perjuangan yang diangkat dari kisah nyata ini. Dari sini, kita bisa mengambil banyak pelajaran hidup agar jangan sekali-kali menjual rasa nasionalisme kita untuk negara lain. Tetap berpegang teguh dengan rasa cinta tanah air namun tetap maju mengikuti perkembangan zaman. Berpikir terbuka dan tetap bersatu.
Setelah menahan rasa kesakitannya, pada akhirnya Yu Gwan Sun meninggal di usia 18 tahun, seorang diri, di dalam penjara Seodaemun, tepat 2 hari sebelum hari kebebasannya. Sedih sekali… Dan karena perjuangannya, Yu Gwan Sun dianugerahi bintang jasa sebagai Pahlawan Kemerdekaan tingkat 3.
Lesson Learned Film A Resistance (2019)
Jangan Pernah Sia-Siakan Perjuangan Para Pahlawan
Dengan bermalas-malasan dan tidak tahu harus berbuat apa, mudah putus asa dan patah semangat, itu adalah salah satu perbuatan yang tidak menghargai perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan perang. Bagaimana zaman dulu orang sangat susah sekali mendapatkan pendidikan, bagaimana susahnya makan dan menginginkan sesuatu yang besar dalam hidupnya.
Persis seperti kisah Sunja dalam drama Pachinko. Anak masa kini, harus lebih berusaha keras dengan apa yang diimpikan. Mewujudkan mimpi dan berkarya adalah salah satu bentuk menghargai perjuangan pahlawan kemerdekaan.
Yang Penting Dalam Hidup Adalah Mempertahankan Value
Bukan bertahan dengan menjual rasa nasionalisme, apapun dan bagaimanapun, bertahan dengan rasa nasionalisme adalah cara terbaik. Dialog ini yang dilakukan antara Nishida (tentara Korea yang bekerja untuk Jepang) dan Yu Gwan Sun. Nishida sebenarnya tidak tega menyiksa bagian darinya, sesama orang Korea, namun karena perintah dari tentara Jepang, maka ia melakukan apapun yang diperintahkan.
Nishida : Bagaimana pekerjaanmu?
Di sini…
Yu Gwan Sun : Yang penting adalah bertahan.
Kau setuju, bukan?
Nishida : Lalu, apa yang penting bagimu?
Yu Gwan Sun : Di mana nilai dalam kehidupan tanpa kebebasan?
Nishida : Kebebasan? Apa itu?
Katakan.
Yu Gwan Sun : Hidup sesuai keinginanku.
Nishida : Kalau begitu,
aku punya kebebasan.
Aku melakukan yang kuinginkan.
Yu Gwan Sun : Tidak.
Kau melakukan yang diinginkan orang Jepang.
Itu disebut perbudakan.
Gambaran Nyata Tokoh Yu Gwan Sun
Menarik sekali yah..mempelajari budaya dan sejarah bangsa Korea. Sekarang jadi tahu mengapa orang Korea libur setiap tanggal 1 Maret dan mengisi kegiatan dengan mengunjungi situs bersejarah seperti Balai Sejarah Penjara Seodamun atau Balai Kemerdekaan Korea.
Di tanggal 1 Maret yang disebut dengan Hari Samil Jeol adalah hari untuk mengibarkan bendera Korea, belajar tentang sejarah Korea, dan bangga menjadi orang Korea.
즐거운 하루 보내세요~
Have a nice day.
With love,

