Dari Most Popular Opinion “Orang Males Rejeki Seret” dan Pola Asuh Emaknye An Jeong-Ha

Pegimane daah..
Jarang nulis, sekalinye nongol malah ghibah…??

Okaaii…
Mungkin ini bisa dibilang artikel kontemplasi yaa… karena aku ga sebut nama “siapa” yang ngomong narasi “Orang males rejeki seret.”

Tapii..
Aku bener-bener kepikiran dengan perkataan bijak netijen yang memberikan feedback. Termasuk Jerome dan Gitasav.

Awal Mula Narasi “Orang Males Rejeki Seret“

Narasi ini sebenernya ada versi full-nya siih…
Yang intinyaa..

Kalau burung liar aja dikasih rejeki sama Allah, tapiii kalau burungnya males terbang, yaa… ga dapet rejeki apa-apa. Kalau kita hidupnya kurang banyak uang, artinya kudu lebih ikhtiar lagi bekerja, seperti burung yang terbang sana-sini mencari makanan. Kita males ya rejeki kita seret, akan seret lagi kalo gak pernah bersedekah (uang atau tenaga).

Sekilas…
Okedeeh.. ini bener bestiee…

Pemahaman ikhtiarnya MANTEB!

Tapiii kali inii.. aku ingin menekankan bahwa gak semua rejeki bentuknya UANG yaah..
Dan kebahagiaan itu beneran gak dinilai dari UANG.

Bagi orang HAVE, makan di resto mahal setiap hari maah.. uda B ajaa.. udahlah kek ngapain makan di rumah, yeekaan??
Tapiii.. bagi kaum mendang-mending, beli ayam Jatinangor House geuuss uyuhaann ogee…

Ini ada jawaban baguuss dari warga..

Kalau kerja keras otomatis bikin kaya, harusnya pemulung yang keliling seharian udah hidup bergelimang harta. Kalau makin lama kerja makin banyak rezeki, penjaga warkop yang buka 24 jam harusnya lebih kaya daripada orang yang kerja 8 jam. Kalau capek jadi ukuran kesuksesan, buruh kasar harusnya masuk golongan orang kaya.

Tapi kenyataannya nggak begitu, kan?

Memaknai Rejeki

Kunci dari rejeki dalam Islam adalah shalat sunnah dua rakaat yang dikerjakan sebelum shalat wajib Subuh (qobliyah shubuh atau shalat fajr).

Dua rakaat (sebelum) Subuh lebih baik daripada dunia seisinya

(HR. Muslim)

“Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.’
Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan maka engkau mendapatkan pahalanya”

(HR. Muslim)

Jadiii…
Kalau ada seseorang yang menilai orang lain berdasarkan apa yang ia gunakan, berapa uang yang dimiliki, sering fansmeet idol Kpop atau nonton konser, endesbre endesbre.. kudunyaa.. memang jangan ditulis di sosmed siiyh… apalagi ditambahin embel-embel hastag #NOTETOMYSELF

NOTE TO MY SELF

Teknisnya…
Notetomyself ini sering menyindir seseorang.

Ataauu.. kalau pun gak ada niatan untuk nyindir, karena ditulis open public, pastinya mengundang komentar pros and cons… alias suka engga suka.

Baiknya memang ubah narasi yang mengundang seseorang untuk berpikir bahwa apa yang ingin kita bicarakan ini ada good impact-nya buat timeline sosmed. Kalau pun ingin menasehati, ada hal-hal yang kudu dilakukan…

Seperti ketika main ke blog Lifestyle Blogger Madura yang ngobrolin masalah keuangan keluarga.

Menasehati Seseorang Bukan Menyindir

Karena kadang kita menasehat orang itu bukan cuma masuk ke telinga seseorang, namun berkaitan dengan ego.

Nasehat ((apalagi dari orang asing, bakalan sering mental)), padahal benar, karena…

1. Caranya salah, bukan isinya
Manusia itu tidak benci nasihat, dia benci cara menasehati seseorang.
Dinasehati di depan orang lain akan merasa dipermalukan.
Dinasehati pakai nada menggurui akan merasa direndahkan.
Imam Syafi’i bilang: “Menasehati di depan umum itu membongkar aib, bukan memperbaiki.”

2. Nasihat datang saat hati belum siap
Orang yang lagi marah, lapar, capek, atau malu — otaknya mode bertahan, bukan mode belajar. Nasihat apa pun akan dianggap serangan.

3. Yang menasehati belum tentu melakukan
Kita langsung nge-scan: “Dia aja kayak gitu, kok sok nasihatin gue?”
Makanya dalam Qur’an: “Wahai orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)

4. Ego merasa “Aku sudah tahu”
Ada yang namanya superiority bias. Manusia merasa dirinya sudah paling paham. Dinasehati = dianggap bodoh. Padahal belum tentu.

5. Nasihatnya terasa seperti nyindir, bukan sayang
Kalau kalimatnya: “Makanya dengerin, kan udah dibilangin…” — itu bukan nasihat, itu pelampiasan “aku benar, kamu salah”.
Hati manusia peka, dia bisa bedakan mana nasihat karena cinta, mana karena ingin menang.

6. Belum ada hubungan, sudah ada tuntutan
Orang hanya mau dinasehati oleh orang yang dia percaya sayang sama dia. Kalau tidak kenal dekat, tiba-tiba dinasehati, yang muncul adalah defensif, bukan terima kasih.

7. Sifat dasar manusia: tidak suka dikontrol
Dalam psikologi disebut reactance. Saat merasa kebebasannya diatur, manusia otomatis menolak, walau itu alasannya demi kebaikannya sendiri.


Lalu gimana biar nasihat masuk?

Rasulullah ngajarin rumusnya:

1. Sembunyikan: Nasihati berdua, jangan di grup WA, jangan di story.
2. Lembutkan: Mulai dengan pujian yang jujur. “Aku lihat kamu udah usaha banget…”
3. Pendekkan: Nasihat terbaik itu singkat. Yang panjang jadi ceramah, yang singkat jadi nancep.
4. Doakan dulu, baru katakan: Doain di tahajudnya, baru ngomong di siangnya. Beda auranya.

Dan kalau kamu yang sedang dinasehati:

Coba tanya ini ke diri sendiri:

“Kalau Allah yang negur aku lewat mulut orang ini, apakah aku juga akan marah?”

Kadang Allah kirim kebenaran lewat orang yang paling tidak kita suka, supaya kita belajar rendah hati.

Selaras pas Nonton Drakor Record of Youth 

Mendadak kepikiran aje gittuu.. pas liat scene di drakor Record of Youth-nya Park Bo-gum dan Park So-dam di bagian orangtua Sodam yang misahin anak perempuan dengan cinta pertamanya, yakni sang Ayah dengan alasan “Sang Ayah males, kerjaannya cuma ngelukis doank…”

Dan apa dampaknya bagi sang anak?
Dia jadi gak percaya lagi dengan yang namanya kebahagiaan pernikahan karena semua harus diukur dengan UANG.

Okaii..
Memang kita kudu BE REALISTIC yaah.. in this economy.

Tapii… menurutku… selama kita bisa kerja keras bareng dengan pasangan, masih bergerak untuk penuhi kebutuhan hidup, itu menurutku ikhtiar yang cukup.

Gak perlu gerak berlebihan apalagi sampai berani ngelakuin yang gak halal demi DUNIA.

Memang dunia perlu dicari untuk menunjang kehidupan akhirat, tapi jangan lupa bahwa Allah sudah mengatur besar-kecilnya rejeki seseorang. Dan bukan nominal yaah.. tapi kemudahan kita memahami makna rejeki, kemudahan kita untuk menghargai proses dan yang terakhir, nikmati dengan penuh rasa syukur setiap tetes pemberian Allah melalui tangan siapa aja.

Jangan sering-sering ngeluh mengenai jumlah atau porsi.
Karena yakin, bahwa Allah gak pernah salah menaruh isi piring seseorang.

Kalo kamu pantes dikasih 100 juta in a row, pasti Allah akan kasih.
Tapiii.. mungkin saat ini, kamu baru 1 juta duluu.. ya gapapa… terus berdoa dan nikmati setiap prosesnya.

Terdengar cliché yaah..
Betul. Untuk saat ini, semua orang sedang struggling dengan kehidupannya masing-masing.

Jadi bijaknya menurutkuuu..
Jangan pernah judging dengan keputusan orang.

Ada orang yang bahagianya adalah nonton drakor, let it be..
Ada orang yang self love-nya dengan beli tas, let it be…
Ada juga orang yang sukanya pesen copiput, let it be…

Gak semua kebahagiaan bisa diukur dengan jam tangan rolex atau tas Hermes dan itu baru kamu sebut BAHAGIA yaa…

Dan inget kalo apa yang kamu peroleh itu bukan hasil jerih payahmu…
Tapiii… pemberian Allah yang mungkin bisa aja kalau Allah gak pingin “minjemin” lama-lama, bisa ditarik kapan pun Allah merasa thats enough~

Hidup Itu…

Kudunya thats simple as gak nulis status judging berkedok notetomyself..
Kalo mau notetomyself baiknya nulis di diary ajaa.. gak perlu di publish dan semua orang baca.

Karena gak semua orang bisa relate sama apa yang kamu omongin.
Apalagi kalau kamu seorang public figure dan influencer.

Alih-alih dianggap bijak, bisa jadi dianggep blunder atau tone-deaf.
Nanti kalau uda kena hujat, kamu bingung… dan non-aktifin sosmed.

Ya jangaan yaa..
Tetap kita butuh kontrol dari keadaan sosial di sekitar kita, agar kita napak tanah alias bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Tetap membumi dan jangan lupa bahwa di atas langit masih ada langit yaa, gaaiiss..

Okaaiii…
Sekian kontemplating yang gak manfaat ini.. hahhaa.. aku iseng banget daah…

Buat yang pingin nulisin komentarnyaa.. gakpapaa… silakan sebebas-bebasnya kita ngobs..
Semoga jadi pelajaran buat kita semua yaa..

**btw, aku beneran keinget emaknye Jeong-Ha.
Kek se-traumatic ittuuh.. aku jadinyaaa.. dan memang RED FLAG banget siih buat yang sring flexing kekayaan inii.. atau bebikinan konten di waktu dan situesyen yang gak tepat ((kayak sekarang lagi banyak bencana)).

Intinya bukan gak boleh…
Tapi read the room aja gittuu..

Kuy lanjuutt aktivitas yee..
papaayy~

With love,

14 pemikiran pada “Dari Most Popular Opinion “Orang Males Rejeki Seret” dan Pola Asuh Emaknye An Jeong-Ha”

  1. Record of Youth drakor kesukaankuuu 😀
    Tapi aku lupa tu kerjaan bapaknya yang karakter cewek apaan haha.
    Cuma yang aku inget pas zaman si karakter cowok Si BWS kan emang serba berkecukupan yaa, jadi dia happy gitu saat sukses, sementara Bogum ya seneng temennya sukses tapi ada irinya.
    Pas kondisi udah kebalikannya, Si BWS kek merasa sebuah kegagalan tapi ya sebenarnya nggak perih2 amat gitu, tapi kondisinya bisa beda gitu sama BWS.
    Yaaa kalau orang kaya sejatuh2nya dia keknya masih di kasur empuk kali ya wkwk.
    Mengenai rezeki seret yaaa emang rezeki udah ditakar tapi tetep kudu dijemput sih, ya menurut ajaran kita.
    Setuju, rezeki kita tu yang udah kita nikmati/ makan, kalau misalnya di tanga lalu hilang, berarti belum rezeki.
    Kalau soal menasihati, yaa emang yang nasihatin juga kudu lihat2 situasi sih ya, jangan asal njeplak ke Maia kemarin *uppss.

    Reply
  2. kalau soal rezeki ini aku meyakini semua yang ada di bumi ini sudah dijamin rezekinya sama Allah. Tapi memang kadar rezeki tiap orang beda-beda ada yang dikasih berlebih ada juga yang secukupnya aja. Bicara soal bunda itu yang akhirnya dirujak karena statement dia karena di kondisi ekonomi sekarang dan dengan kondisi dia yang kaya raya wajar sih banyak yang tersinggung yaa

    Reply
  3. Sepakat banget kdang nasihat mental bukan karena nasihatnya kurang baik namun caranya yang kurang tepat sehingga menyingung hati orang yang kita nasihati. Memaknai bahagia pun beda orang beda versi, akhirnya kembali saja lagi, sama-sama saling menghormati dan bahaia dengan versi masing-masing.

    Reply
  4. Zuzur di tengah hiruk pikuk sebagai warga 62 aku sampe ga tau harus gimana selain berdoa. Ya harus bertahan hidup tapi tense tinggi bikin kadang ketrigger juga. Kalau buat yang flexing bisa tinggal skip aku sih. Cuma buat yang ga gerak malah kabur bukan menyelesaikan masalah di ranah tanggung jawabnya dan malah happy happy itu aku ga tau harus bereaksi gimana saking speechlessnya. Doa aja lagi deh. Lah aku malah curhat

    Reply
  5. Mantep Teh… Mengena semua ini tausyiah na
    Meresap dalam hati saya
    Jangan sering-sering ngeluh mengenai jumlah atau porsi. Karena yakin, bahwa Allah gak pernah salah menaruh isi piring seseorang.

    Gak semua rejeki bentuknya uang ya. Ada berupa pasangan yang baik, anak soleh/hah, kondisi kampung yang damai, lingkungan pekerjaan yang amanah, dans sebagai nya.
    Kebahagiaan itu beneran gak dinilai dari uang

    Bagus berarti itu drama Korea nya bisa ngasih pelajaran hidup dan filosofi yg daging banget 😍

    Reply
  6. MashaAllah, sungguh sebuah refleksi yang sangat lengkap sekali mengenai orang males rejeki seret ini.
    Memang benarlah bahwa rezeki itu bukan cuma Uang atau Harta, janganlah mempersempit makana rezeki itu menjadi hanya uang saja.
    Meski memang yang memiliki nilai adalah uang, tapi kebahagiaan gak mesti dinilai dari banyaknya uang kita.
    Kalo teh Lendy bahagianya itu Nonton drakor, kalo mamang mah bahagianya di Goreng Jengkol.

    Teh apakah emaknye Jeong-Ha itu kayak emak – emak lain? yang kalo sore suka pada maen voli di kampung pake daster?

    Reply
  7. Setujuuuuuu, rezeki itu enggak selalu soal uang dan kekayaan, karena setiap orang punya ukuran kebahagiaannya masing-masing. Niatnya mungkin baik, tetapi kalau caranya terkesan menyindir atau menghakimi di ruang publik, pesan yang disampaikan malah bisa jadi bumerang. Apalagi kita enggak pernah benar-benar tahu perjuangan hidup orang lain. Memang perlu banget belajar bersyukur, enggak gampang menghakimi, dan tahu kapan harus read the room.

    Reply
  8. tidak apa, keluarkan saja unek-uneknya dan dibagi sama kite2 yang baca. Iya sih, rejeki memang sudah ada yang atur, tapi kita tetap harus berusaha mencarinya. APa yang kita dapatkan itu yang diberikan oleh Sang Pencipta kita. Jangan berkecil hati mengenai besaran nilainya atau jadi pundung karena belum cukup untuk memenuhi kebutuhan. Jangan jadikan hal tersebut merenggut kebahagiaan kita yah. Jangan ngebandingin dgn yg dipamerkan orang lain di medsos karena kita pun tidak tahu perjuangan mereka mencapai itu.

    Reply
  9. Terkait opini orang males rezekinya seret pun menurut saya related ya. Bagaiman mungkin berharap rezeki mengalir deras sementara kita ogah-ogahan, bekerja pun setengah hati.

    Reply
  10. Aku suka banget dengan rangkaian kalimat ini : “Jangan sering-sering ngeluh mengenai jumlah atau porsi. Karena yakin, bahwa Allah gak pernah salah menaruh isi piring seseorang.” Makjleb banget ini Len.

    Terlepas dari niatan orang yang “menasehati” sesungguhnya banyak etika berbicara yang harus dipahami. Dan yang patut juga dicatat adalah bagaimana cara menyampaikan, siapa yang berbicara, dan siapa yang menjadi audience nya. Karena penyampaian pesan dalam sebuah lingkaran komunikasi banyak efeknya. Mulai dari si pengiriman pesan hingga mereka yang menerimanya. Tapi sadly but true, di kondisi kehidupan dan ekonomi seperti sekarang ini, semua hal/materi pembicaraan bisa jadi sesuatu yang (terlalu) sensitif untuk diulas. Khususnya tentang rezeki, usaha, dan lingkar pendapatan.

    Reply
  11. hahaha tau nih siapa yang ngomong “Orang Males Rejeki Seret’

    dan netizen pun ngamuk, karena nuduh orang miskin males kerja

    sementara kita tahu betapa giatnya mereka bekerja. Ketika di Bandung, saya ngelihat penjual di pasar Ciroyom udah mulai buka lapak dari sore hingga menjelang subuh
    Di Cinanjung, saya lihat orang tua sejak subuh udah nyabit rumput untuk kambingnya, trus terbungkuk-bungkuk manggul rumput

    tapi apakah orang miskin itu tidak bahagia? Eits, jumlah uang gak ada urusannya dengan kebahagiaan

    Reply
  12. Ah perkataan nyonyah besar itu ya. Bikin melukai banyak orang. Ingat, kemiskinan nggak hanya karena faktor kultural (rasa malas, etos kerja rendah) tapi juga faktor struktural. Masyarakat jadi miskin, ya karena dimiskinkan oleh struktur. Hehe. Kali ini aku pun kesel dengan cuitan nyonyah besar. Hahaha

    Reply
  13. Pengingat yang ngena pisan. Bener sih ada fase aku pernah tuh suka story dengan catetan note to my self, saat itu emang kek pengen curhat, nggak kepikiran kalau kayak gini tuh bisa bikin oranglain ke sindir. Nuhun sudah diingatkan ya.

    Terkait rezeki pun, aku amat sangat sepakat. Semoga dimudahkan untuk terus bersyukur dan menjaga salat wajib serta Sunnah (bukan sekadar menggugurkan kewajiban) melainkan berusaha berdialog sama Allah SWT.

    Di era sekarang, jujur emang sulit banget. Bahkan buat posting travelling pun mikir ratusan kali, ada rasa sungkan takut dikira tidak peduli sama fakta karhutla yang makin menjadi-jadi 😭 yang terdampak banyak pula. Semoga segera berlalu dan semua yang mengalami bisa survive.

    Reply

Tinggalkan komentar